Life

Homeland

Saya menghabiskan tanggal 17 Agustus tahun ini di Bali. Waktu di Bali banyak habis di jalan–saya bahkan sampai ke Bali dengan menggunakan mobil dari Banyuwangi–jadi saya punya banyak waktu untuk bengong memperhatikan jalan dan orang-orang. Jalanan Bali penuh dengan dua hal: orang asing dan bendera merah-putih. Hal yang pertama sudah jadi hal lumrah. Hal kedua juga sebenarnya biasa karena masa-masa ini adalah masa perayaan peringatan kemerdekaan negara tercinta, tapi tetap saja saya takjub sendiri saat sadar bahwa bendera merah-putih nyaris ada di tiap rumah di Bali. Besar-besar pula. Bendera di perkantoran Jakarta saja tak melulu sampai sebesar yang saya lihat mencuat dari pagar rumah orang sini.

Lalu saya jadi terpikir soal nasionalisme, Indonesia, dan Ariana.

Ariana yang saya maksud adalah Ariana Alisjahbana. Saya bertemu dengan Ariana tahun lalu, saat sedang di Singapura. Juni tahun lalu, saat sedang mengikuti Singapore MUN, rekan saya di acara tersebut–Mbak Fitri Mayang Sari, pendiri Orang Jakarta–mengajak saya bertemu dengan Ariana. Sudah lama tak bertemu, katanya, dan kebetulan Ariana sedang di Singapura. Ariana sendiri sebenarnya sedang kuliah di Berkeley. Keberadaannya di Singapura pun untuk urusan sekolah, untuk magang di Google sana. Keren, ya. Saya yang anak ingusan ini belum apa-apa sudah terpukau.

Jadilah sore itu kami menyusuri Orchard Road sambil ngobrol-ngobrol. Nggak sih, saya cuma mendengarkan sambil foto-foto Mbak Fitri dan Ariana yang sedang ngobrol dan menimpali sedikit. Ariana bercerita banyak tentang dirinya sebagai diaspora di Amerika. Tentang bagaimana dia bekerja di World Resources Institute (WRI) dan berjuang supaya WRI membuat cabang di Indonesia. Berkali-kali mengajukan proposal (dan saya yakin, membangun reputasi agar suaranya didengar), dan akhirnya WRI Indonesia benar-benar dibuat. Adanya WRI di Indonesia jelas berarti sekali. Berapa banyak sih think tank yang sejenis WRI ini di Indonesia? Lebih-lebih yang memfokuskan diri pada pembangunan berkelanjutan dan hutan-hutan.

Lalu, mengapa sekarang ke Google? Ariana bilang, dia penasaran, bagaimana suatu perusahaan bisa sebesar ini dalam dunia teknologi. Saya ingat Ariana bicara juga soal bagaimana memahami teknologi yang berkembang akan berguna banyak bagi Indonesia, tapi saya lupa bagaimana detailnya. Yang saya ingat, penjabarannya membuat saya terpukau dan bertanya, “What drives you?

“Indonesia yang lebih baik.”

Di trotoar Orchard Road yang mulai remang, nyaris tertegun, saya mencatat jawaban Ariana dalam hati. Tidak ada jawaban yang bisa lebih nasionalis lagi selain ini.

Di tengah pembicaraan saat itu pula, Ariana sempat membahas stereotipe tentang bagaimana mereka yang menetap di luar negeri dicap tidak cinta tanah air hanya karena tidak tinggal di negara tercinta.

“Indonesia juga butuh dikuatkan dari luar,” ujar Ariana, yang saya aminkan dalam diam.

Saya pikir, tak perlu kita sibuk menilai orang yang bagaimana yang lebih cinta tanah air. Toh, semakin banyak orang Indonesia yang berkarya di kancah internasional, semakin baik. Dalam hal apapun. Entah Anda pejabat, pengusaha, insinyur, penulis, arsitek, seniman, jurnalis, desainer, apapun. Tak perlu repot, sekadar berkarya dengan baik dan mendedikasikan karya itu untuk Indonesia (sadar ataupun tidak) pun sudah cukup “berbuat” bagi Indonesia. Misal, para seniman seperti Trotoart yang karyanya di Jakarta Biennale membuat saya terperangah saat pertama kali dengar. Atau para desainer yang membawa batik ke level dunia dan membuat bisnis batik di Indonesia semakin seru. Atau contoh lain yang begitu gamblang bisa juga kita pelajari dari Ariana–yang bekerja di lembaga global dan berusaha sekuat tenaga agar Indonesia lebih dikenal di lembaganya yang mengurus tentang lingkungan–hingga akhirnya berhasil membuat kantor cabang di Indonesia. Hal yang tidak mungkin mau repot-repot dilakukan oleh orang yang tidak memiliki Indonesia dalam hatinya.

Meski, tentu menguatkan Indonesia dari dalam juga sangat diperlukan (saya sendiri bekerja di instansi pemerintah). Kadang juga, setelah menguatkan dari luar pun kita masih perlu benar-benar kembali. Ibu Sri Mulyani, contohnya. Ibu Sri Mulyani berkarier dengan baik sebagai COO di World Bank (dan berhasil membuat bangga sekian ratus juta orang Indonesia), saya yakin membuat nama Indonesia semakin diperhitungkan di luaran sana, dan kembali ke Indonesia begitu diperlukan (dan berhasil membuat ratusan juta manusia Indonesia bersorak). Teladan sekali. Atau mungkin, kalau Anda pengusaha besar nan bisnisnya mendunia, mengikuti program pemerintah yang sedang hits saat ini, Tax AmnestyAmnesti Pajak, bisa jadi sarana untuk “kembali”. Kita semua tahu tujuan utama program ini dibuat, untuk merepatriasi dana dari luar negeri, agar dana tersebut bisa digunakan di Indonesia untuk pembangunan ekonomi dan infrastuktur. Kurang cinta Indonesia apalagi, kalau kita bersedia menarik dana yang selama ini kita bisniskan di luar untuk kita investasikan sendiri di Indonesia, untuk membangun Indonesia. Enaknya, difasilitasi pula.

Tentu, dedikasi, niat, dan cinta, bukan hal yang bisa dinilai dalam sekali pandang ataupun dalam sekali aksi. Kembali atau tidak, berbuat atau tidak, yang terpenting adalah apa yang terpikir saat Anda harus menjawab pertanyaan ini.

“What drives you?”

 

Sedang serius,

Aulia

 

 

*ilustrasi yang indah di atas diambil dari sini

Advertisements
Standard