Life

Defining Self

Begitulah. Sekarang pukul satu dini hari dan saya didera keinginan untuk berputar menari waltz sendiri di teras rumah. Biasa, jam-jam segini memang rawan melakukan hal-hal di luar kebiasaan. Cuaca Jakarta sedang terlalu panas untuk saya, sulit sekali untuk tidur, jadi alih-alih berbaring saya malah membuka tumblr saya dan membaca beberapa postingan terakhir.

Di salah satu postingan, saya mengutip kata-kata ini setahun lalu.

Don’t wonder. Let me wonder. Let your friends wonder. You, define yourself.

Otak saya berhenti berputar sekejap saat terdengar samar pertanyaan dalam diri, “Lalu sekarang sudah jadi seperti apa?”. Jadi seperti apa? Entahlah. Ini sudah setahun dan kalau menengok ke belakang saya rasanya tidak melakukan banyak hal. Tentu saya masih sibuk, agenda saya selalu penuh dengan hal-hal menyenangkan, tapi agenda setahun terakhir berbeda dengan agenda setahun sebelumnya. Jika dua tahun lalu saya bisa menang PokemonGo saking seringnya pindah tempat, setahun terakhir ini saya seringkali hanya di rumah dan sekitarnya.

Am I actually defining myself?

Iya. Tentu iya. Mendefinisikan diri adalah hal yang sangat personal, tidak ada standar atau ukuran ataupun cara yang pasti untuk ini. Tentu akan sangat membantu jika bisa mengetik ini di wikihow dan menemukan jawaban yang tepat (sungguh, pertanyaan ini ada jawabannya di sana), tapi langkah dalam perjalanan mendefinisikan diri tetap saja hanya bisa ditentukan sendiri. Apapun yang saya lakukan–atau tidak lakukan–mendefinisikan saya. Saya bisa saja melakukan hal yang berbeda 180 derajat antara tahun ini dan tahun lalu, tapi saya rasa saya tetaplah saya. Saya tetap orang yang tidak mungkin tidak menangis di semua adegan mengharukan dalam film, tetap orang yang hobinya mengutip dialog atau lirik atau puisi, tetap orang yang berdebat dengan ibu kalau sudah soal korupsi.

Sambil menulis ini saya berpikir, lalu ada perkembangan baru apa? Ada yang berubah tidak?

Ya. Saya tetap saya, tapi yang berubah juga banyak. Jika saya patung, pemahat saya sedang sibuk cungkil sana-sini, menyesuaikan ini-itu. Saya bisa merasakan, kok. Sakitnya nyata. Terlepas dari berubah jadi lebih baik atau lebih buruk, memangnya mudah mengubah diri? Apa mudah, dari yang tadinya bisa sesukanya jadi disiplin? Apa mudah, dari yang biasanya ramah mudah tertawa jadi pendiam dan hanya senyum saja? Tidak ada adaptasi yang tidak menyakitkan. Kita berubah hari dari Minggu ke Senin saja banyak mengeluhnya, kok.

Tapi semua adalah bagian dari proses. Proses yang lambat, perlahan, dan mungkin tak ada ujung. Di ujung mata saya bisa melihat pemahat saya sibuk sekali mencungkil dan mengetuk-mengetuk. Terus-menerus, sedikit demi sedikit. Sakit? Iya. Lebih-lebih saya tidak tahu seperti apa bentuk saya sekarang, jadi lebih indah atau tidak. Jadi lebih baik atau tidak. Mengesalkan? Sangat. Seringkali saya ingin berhenti dan mengundurkan diri saja, pindah ke gelembung dan hidup nyaman di dalamnya.

Tapi, apa iya, baru setengah jadi lalu berhenti?

 

Sibuk bicara dengan langit-langit,

Aulia

Advertisements
Standard