Life

Book Fasting

Tak sampai sebulan lagi, kita kan menjumpai bulan Ramadhan. Bulan puasa, kalau kata orang-orang. Saya sendiri sudah menjalani puasa saya sendiri selama 5 bulan ini. Puasa buku.

Gila, kan?

Sebagai orang yang menyukai buku lebih dari hal material lain di muka bumi ini, keputusan saya untuk benar-benar menjalankan kaul tidak-mau-beli-buku-lagi-di-tahun-2016 sungguh di luar akal sehat. Banyak teman sekitar yang mempertanyakan, lebih-lebih mereka yang tahu sesuka apa saya dengan buku, motif di balik perilaku tidak wajar saya ini. Belum lagi tahun ini adalah tahun terbitnya buku baru dari para penulis cemerlang. Saya masih ingat jelas cuitan teman saya yang penasaran akan keberlangsungan niat puasa buku saya begitu berita soal buku baru Yusi Avianto Pareanom dan Eka Kurniawan keluar.

Saya bertahan.

Raden Mandasia dan O berseliweran di lini masa dan pembicaraan sehari-hari di grup whatsapp (sungguh menyiksa!), tapi saya masih juga belum membeli–err, salah satunya. Saat ini Raden Mandasia sudah selesai saya baca beberapa hari lalu, berkat kegigihan teman saya, Gita Wiryawan, yang seakan terus memberondong saya dengan pertanyaan “yakin?”, “kenapa sih?”, “gak masuk akal”. Pertanyaan-pertanyaan ini berkurang begitu saya akhirnya mengiyakan ia untuk membelikan buku Raden Mandasia saat Mas Yusi mengadakan acara di Coffeewar. Demi menjaga kaul, saya minta kekasih saya yang mengganti uangnya. Begitulah. Ribet sekali, ya, untuk mencurangi diri sendiri.

(Tapi Raden Mandasia memang sesuatu yang sayang untuk dilewatkan. Tak apalah, untuk buku sebagus ini, dari pengarang yang membuat saya jatuh hati sekali baca, menjilat ludah sendiri pun layak.)

Jadi, kenapa saya begitu dakar untuk tidak membeli buku tahun ini?

Karena saya sudah punya terlalu banyak. Ya, ya, saya tahu, tidak ada kata terlalu banyak untuk buku. Tapi hari itu, hari dimana saya memutuskan untuk berikrar pada diri sendiri, saya kewalahan dan sedih melihat berkardus-kardus buku di kamar saya. Hari itu saya sedang pindah rumah, tapi buku-buku yang ada di dalam kardus, dengan sampul plastik dan halaman-halamannya yang rapi jali, membuat saya terkesan sedang pindah toko. Rasanya saya telah berbuat tak adil. Saya seketika berpikir, ah, apa guna membeli terus tanpa benar-benar dibaca? Mau sampai kapan saya berlindung di balik alasan bahwa membeli buku adalah investasi yang tak perlu dibatasi?

Saya ingin semua buku yang saya punya, yang di kardus-kardus itu, bisa saya selami benar-benar dulu sebelum menambah buku lain di rak. Ingin semua sarinya saya serap dulu, menikmatinya sungguh-sungguh, baru saya memilah lagi, sari apalagi yang mau saya hirup. Sesederhana itu.

Ah, tapi tetap saja keinginan saya kalah dengan Raden Mandasia. Haha.

raden mandasia

 

Ingin 2016 cepat lewat,

Aulia

 

 

 

 

Standard
Life

After-hours Activity

One of the common question that I get lately is “what do you do after office hours?”. I usually remain silent for a while and think–then answer “nothing”. They usually then guess that I must spend the whole night reading everyday, which makes me laugh, since if that is what I do, I must be walking like a zombie every morning.

My after hours activity consists of conventional things. Dinner, conversation, perhaps some movies or books, or some friends to meet. Sometimes, if I am in the middle of a project, I may have some meetings related to the project in the evening. Very normal, considering that I am in an attempt to do appeasing routine in my life. In fact, one of my favorite after-hours activity happens in the office.

Every Wednesday, after office hour ends, some of my colleagues in the office will gather in the meeting room and take turns presenting anything related to our own job every week. You may find this silly. Like, seriously, why would we talk about our own job, in the office, after office hours?

The truth is this is an effective alternative for us to share our knowledge. Just like other office, we have divisions, and those are divided to administrative and technical divisions. The difference between our office and other kind of office is, almost all of the staff do not know in what division they will be; they do not apply for position in the office. The office gives them (us) the placement. Almost all of them (us) will have administrative job. They (we) have to accept it and that is it. So it is not strange for us to find that the secretary, whose job is nothing close to auditing, is someone who graduates from an accounting degree and has experience in being auditor in some firms. It is ubiquitous.

This Wednesday meeting helps me to know what happens in another parts of the office and what my co-workers are working on in general. Well, I work in a very specific field, so it is easy for people to overrate us and always–always–ask us about technical things. This meeting helps a lot. A lot. Even my boss supports this initiative, she said that this was a great thing to do, considering that people didn’t care about in what position we were in the office, in what division, what actually we worked on in the office; they would still assume that we had a perfect knowledge about everything in our field, and they would ask about things, more precisely, anything technical. This is true. However, attending this meeting makes me updated with the current events in our job field, acquire more familiarity with the most updated procedures and regulations, and most of all, I feel like having a fulfilling break from clerical matters.

Today I got the opportunity to do a presentation in the meeting. They asked me to talk about transfer pricing, which they did because they saw a big book titled so in my cubicle, so I gave them an introduction. This was a familiar topic hence there was a fascinating discussion happened in the table. My co-workers were nice, they were not hesitating in asking questions or giving their viewpoint in the case. I was just happy. I’d like to do more of this.

ngjar tp di kantor

 

Craving to learn some more,

Aulia

Standard
Life, review

A Burgreens Experience

Halo, sudah lama tidak bertemu. Sekalinya memegang keyboard lagi, rasanya rindu menulis dalam Bahasa Indonesia. Jadi, mulai sekarang saya pakai Bahasa Indonesia saja, ya. 😀

Dua bulan terakhir ini saya menjalani hidup seperti orang benar. Makan teratur, olahraga rutin, tertawa banyak-banyak. Semua berkat kembalinya saya ke kantor, tentu saja. Kehidupan kantor yang rutin tujuh sampai lima membuat saya menjalani hidup dengan teratur juga. Yay! Ada untungnya juga jatuh di rutinitas yang membosankan.

Selama dua bulan terakhir ini pula, saya memerhatikan ada yang berbeda dengan tubuh saya. Saya menggendut–dan susah kurus lagi. Hahaha. Umur baru 23 dan saya sudah merasa metabolisme tubuh menurun drastis dibanding dulu saat belum 20 tahun. Karena pola hidup sudah baik-baik saja, terlebih saya bahkan sudah berolahraga rutin, hal pertama yang muncul di kepala saat memikirkan sebab gendut yang tak sudah-sudah ini adalah: makanan.

Tanpa berpikir dua kali, saya membuka situs restoran makanan sehat kesukaan saya, Burgreens, dan memesan kateringnya. Mereka punya banyak pilihan paket katering, kita pun dapat mengatur sendiri kateringnya sesuai kebutuhan kita (misalnya saja, alergi terhadap sesuatu). Berhubung saya tidak punya alergi ataupun sakit tertentu, hanya ingin makan dengan benar, saya memilih paket katering yang paling sederhana (baca: murah), Alkalizing and Balancing. Selama lima hari saya akan dikirimi makan siang dan kudapan ataupun sari buah, yang menurut definisinya cocok untuk mereka yang ingin memulai clean eating. Ini sempurna. Saya bahkan tidak bertanya pada admin Burgreens apa saja menu yang akan saya dapat. Yah, Sagitarius suka kejutan. 😉

Hari pertama saya disuguhi tempe yang dibalur berupa-rupa herba, yang entah apa saja, tapi baluran herba bercita rasa kuat ini sukses membuat lidah saya kegirangan. Kata siapa makanan sehat rasanya tak enak?

burgreens4

Hari-hari berikutnya, parade sayuran, kacang-kacangan, jamur, dan herba yang melimpah memenuhi lambung saya dalam bentuk yang membangkitkan selera. Belum lagi racikan saus yang mereka gunakan untuk salad sayur dan buah. Nyam! Kudapan dan minuman yang disertakan juga di luar bayangan saya. Dua kali saya diberi minuman, yang pertama campuran sayuran hijau entah apa, dan yang kedua campuran kunyit dan sesuatu yang segar seperti jeruk. Terdengar aneh, ya, padahal saat melewati lidah rasanya sebotol saja kurang.

Benar lho, pola makan berpengaruh terhadap tubuh. Sekarang saya sudah tidak terbawa kemelikan lagi. Biasanya sedikit-sedikit lapar, sedikit-sedikit ingin yang manis-manis. Sekarang, tidak makan malam pun tak apa. Keajaiban apa ini?

 

Menuju langsing 2016,

Aulia

 

 

 

Standard
Life

Sunday Running in the Park

As I gained 10 kilograms compared to how I weighed usually last year, I decided to go for a run at least once a week.

I spend every Sunday morning in the last few weeks, quite early, to put on my running shoes (a Nike Lunarlon, been accompanying me since some years ago), and go to the nearest park. I usually go to Tebet Honda Park to run, until my friend tells me that the park across this park is much more comfortable for runners since people rarely hang out in that park on Sunday morning. I think it is named Tebet Gas Park, but I am not sure.

Different from its neighbor, this park still seems natural. By ‘natural’ I mean there is more trees and less place to hang out. No well-maintained “fitness center”, no bench, no playground for kids, no street vendors. But there is a clean and long jogging track, reflexology stone path, and some shelters for sitting. Good!

DSCF5593

DSCF5600

Aulia A. Agassi

DSCF5557

 

And with stunning rays of sunshine around, we can’t help but taking some pictures.

DSCF5555

DSCF5591

 

Running out of breath,

Aulia

Standard
Travelling

The Kind of Photos You Take in Santa

It was Sunday morning and I already sat calmly in one of the most well-known enhanced traditional market in Jakarta, Pasar Santa. I came early because there was a writing event held in that place, in my favourite bookstore in town, POST. The owner was my senior at college (no, I didn’t meet him in college of course), and the speaker for the class that day was my very own friend too.

This was my one, two, three, four, yes, fourth time  I visited Santa. I usually just visit this place for events, not for strolling around, but this place has its own beautiful side to capture. These are photos my partner took.

DSCF2448

DSCF2402

DSCF2456

DSCF2505

DSCF2657

DSCF2628 (2)

And of course, my ice cream eating partner.

DSCF2486 (2)

 

Walk with you later,

Aulia

 

Standard