Life

Bertemu Bening

Perjalanan saya untuk bertemu dengan Bening terbagi dalam beberapa babak: pertemuan dengan ayahnya, pernikahan, kehamilan, dan proses melahirkan. Dalam tulisan ini, saya akan mengisahkan yang terakhir, tentang bagaimana saya, pada akhirnya, bertemu dengan manusia baru yang mengubah hidup saya diam-diam.

***

Saya sudah lama mengamati Bening sembunyi-sembunyi tanpa sepengetahuannya. Sejak saya tahu ia ada, setiap bulan saya mengintip Bening, memastikan dia baik-baik saja di dalam perut saya yang terus membesar. Kadang juga saya mengintipnya kelewat sering, bisa dua-tiga kali dalam sebulan di dua-tiga dokter yang berbeda. Saking cemasnya. Belum pernah rasanya saya sampai seperti ini dalam menghadapi sesuatu. Banyak tanya, sedikit tenangnya, kira-kira. Banyak pertanyaan yang rasanya ingin dijawab detik itu juga saat tanya tersebut muncul di kepala. Banyak jawaban yang rasanya ingin saya pertanyakan lebih lanjut sampai saya benar-benar yakin jawaban itu benar, benar-benar yakin bahwa semua baik-baik saja. Tapi, dalam kehamilan, tidak ada yang bisa memastikan semuanya baik-baik saja. Tidak dokter, tidak bidan, tidak pula si induk. Dalam menghadapi kehamilan, saya mendadak menjadi relijius, hanya mampu menggantungkan harapan dan keyakinan pada semesta setelah mengusahakan yang terbaik. Pasrah dan doa saya kirim banyak-banyak. Hitung-hitungan logis sudah tidak bisa saya percaya lagi. Siapa yang tahu kalau-kalau di salah satu belokan saya salah jalan dan akibatnya fatal?

Selama sembilan bulan, saya mengusahakan beberapa hal kecil untuk Bening. Memaksa diri memakan ikan, yang sebenarnya hanya pernah saya makan beberapa kali dalam hidup, karena begitu ingin dapat nutrisinya. Membaca banyak soal kehamilan dan persalinan, meng-google setiap pertanyaan sesederhana “how do I know my baby is okay?” (jawaban: you will never know), juga selalu mengajak Bening bicara meski jawabannya hanya berupa tendangan-tendangan kecil di perut. Dan yang terpenting, mengikuti prenatal yoga dan rajin menggunakan gym ball untuk olahraga demi melancarkan persalinan. Saya begitu ingin melahirkan normal dengan tenang. Gentle birth, kalau kata orang-orang. Di trimester akhir, setiap bertemu dokter, saya selalu bertanya apa mungkin bagi saya untuk melahirkan normal. Jawabannya selalu mungkin, mengingat Bening begitu sehat dan baik-baik saja, sampai di hari dimana saya bertemu dokter untuk mengintip Bening untuk terakhir kalinya.

Hari itu saya melihat ada flek untuk pertama kalinya selama hamil. Saya pikir, ah, Bening mungkin sudah mau datang, mungkin besok. Saya tenang, setengah bersemangat, karena sebentar lagi akan bertemu dengan manusia kecil yang selama ini cuma bisa saya intip-intip lewat pantulan gelombang. Kebetulan malamnya saya memang terjadwal untuk kontrol ke dokter kandungan, jadi saya pikir, tinggal bilang kalau saya sudah melihat flek, lalu tunggu dan tunggu dan tunggu dan saya akan bertemu Bening dalam waktu yang tidak lama lagi. Tapi dugaan saya meleset sebagian. Dokter saya memandang saya dengan tenang saat selesai memindai Bening, dan dengan lamat berkata, “Wah, bayinya besar sekali. Harus caesar ini. Malam ini saja, gimana?”

Setengah otak saya mengingat bahwa hari itu 12 Oktober, tepat ulang tahun Mama saya, dan dia pasti akan sangat senang kalau ulang tahun cucu pertamanya berbarengan dengannya. Setengah otak saya yang lain membeku. Caesar? Operasi? YOU MEAN, I HAVE TO GO TO HOSPITAL, HAVE SOMEONE CUT MY FLESH AND STUFF?

Saya lebih takut menghadapi operasi caesar daripada harus melahirkan normal karena belum pernah dirawat di rumah sakit sebelumnya. Saya mencoba mengubah pikiran dokter saya. Saya bilang, saya flek. Oke, ayo kita cek pembukaan berapa. Pembukaan dua, dan bayinya belum benar-benar turun di panggul.

“Ibu, ini berisiko jika harus lahiran normal, nanti bayinya tersangkut,” jelas bidan yang mengecek pembukaan saya. (Ngomong-ngomong, cek pembukaan itu pengalaman yang sungguh tidak terduga).

Saya makin ragu dan setengah ingin menangis. Saya bilang, saya mau pikir-pikir dulu. Dokter saya bilang, kalau caesar bisa dengan dokter mana saja, tidak harus dengannya. Tapi dia tetap menyarankan caesar, karena bayi dalam perut saya sudah tak sabar ingin keluar sementara jalan lahirnya dikhawatirkan tidak cukup untuk ia lewati. Saya mulai lemas. Saya bilang, kalau memang harus caesar, saya pilih dengan dokter saja. Saya tidak bisa membayangkan harus dioperasi oleh dokter lain yang tidak tahu riwayat saya di akhir hingga akhirnya harus dioperasi. Dokter langsung memberi jadwal untuk operasi dengannya dan rumah sakit mana yang harus saya datangi. Dia bahkan menjelaskan prosedur untuk bisa menjalani operasi gratis menggunakan BPJS di rumah sakitnya. Tersenyum setengah hati, saya mengucapkan terima kasih dan keluar ruangan.

Sepanjang malam saya sibuk mengirim pesan ke teman dekat saya yang juga seorang dokter dan baru-baru ini melahirkan normal. Dia penganut gentle birth garis keras, dan berhasil melahirkan bahkan tanpa jahitan di perineum-nya. Saya butuh opini lain. Saya butuh diyakinkan. Saya butuh dengar bahwa saya punya pilihan lain. Saya pun menghubungi bidan di klinik lain, yang biasa jadi instruktur prenatal yoga saya. Dengan baik, dia menjelaskan untuk meminta opini kedua pada dokter lain yang mendukung persalinan normal, dan bahkan mau mengantarkan saya. Dia meyakinkan saya kalau saya bisa, saya berdaya untuk melahirkan secara normal meski Bening divonis terlalu besar untuk saya.

Tapi semua kalah dengan saran dari suami saya yang takut terjadi sesuatu pada Bening. Esoknya, saya ke bidan lagi, mengecek pembukaan (yang saya yakin sudah lebih terbuka dan lebih turun karena sakitnya mulai terasa), tapi masih juga harus memberanikan diri ke rumah sakit untuk melahirkan caesar. Saya sampai di rumah sakit siang setelah shalat Jumat. Setelah menunggu di IGD dan ruang OK berjam-jam sambil menahan sakit kontraksi yang makin menjadi, setelah berlembar-lembar kertas administrasi selesai diurus suami, setelah dua labu darah berhasil dibawa dari PMI, saya pun diminta masuk ke ruang operasi.

“Sudah pamit sama suaminya, Bu?”

Pamit apa, saya tanya. Tidak boleh ditemani di dalam ruangan operasi, jawab suster.

Hati saya kacau-balau. Rasanya seperti ingin mundur. Tapi toh kaki saya melangkah juga ke ruang operasi. Sudah ada dua dokter dan beberapa suster di sana. Saya membuka baju–halo, pengalaman telanjang di depan banyak orang–dan berbaring di kasur operasi. Mereka sigap sekali. Sekejap saya sudah diinfus–halo, pengalaman diinfus–lalu sudah disuntik bius–halo, pengalaman dibius–lalu sudah ditutupi screen hijau di dada untuk menghalangi pandang ke proses operasi.

Malam itu, saya lupa berdoa agar operasi lancar. Saya terlanjur panik merasakan kaki yang tiba-tiba mati rasa dan langit-langit rumah sakit yang mendadak berputar. Dengan napas terengah, saya protes kepada dokter yang berdiri di dekat kepala saya, dokter anestesi, kenapa kaki saya tidak bisa digerakkan. Ya, namanya dibius, jawabnya santai. Saya masih panik dan mulai menangis. Salah satu suster mencoba menenangkan saya, tarik napas panjang, katanya. Saya mengingat-ingat latihan pernapasan di prenatal yoga yang saya ikuti. Percuma. Sulit mengatur napas sambil menangis.

Meski masih diserang panik, saya bisa merasakan dokter kandungan saya sudah datang. Benar saja, dokter melongok ke saya melewati screen, bicara sesuatu yang saya lupa entah apa, dan saya jawab dengan teriakan sebisanya di sela napas yang satu-satu, “DOK, CEPETAN, DOK!”

Gentle birth apanya.

Beberapa menit kemudian, di sela napas yang setengah mati saya atur, di sela muntahan ludah yang terus keluar entah karena vertigo di langit-langit atau karena anestesi, saya bisa merasakan perut saya yang berat mendadak kosong. Sedetik kemudian, suara tangis Bening memenuhi ruangan (dan sepanjang koridor, saya yakin). Suara Bening begitu nyaring. Tangis saya pecah lagi, kali ini karena lega dan haru campur jadi satu.

Saya masih harus berbaring karena perut saya masih harus dijahit–dan lagi saya dibius, tidak bisa kemana-mana. Samar saya ingat Bening dibawa masuk ke saya dan dia didekatkan untuk menyusu. Kebetulan, saat menunggu di ruang OK, saya berpesan ke salah satu suster bahwa saya ingin Inisiasi Menyusui Dini. Sayangnya, saya terlalu pusing untuk bisa menyusui Bening saat itu. Saya bahkan tidak ingat apa Bening berhasil menyusu atau tidak.

Setelah operasi, saya dibawa ke ruang OK untuk istirahat. Kepala saya masih berat, kaki kanan saya masih tidak bisa digerakkan. Keluarga saya menghampiri. Selamat, anaknya cantik, kata mereka. Ah, sungguhkah, kalau benar begitu, bersyukur sekali, jawab saya dalam hati. Saya hanya menatap mereka, tersenyum kecil. Entah berapa waktu kemudian, ada suster yang mendekat untuk mengecek infus yang terpasang. Saya bertanya, apa bayi saya dikasih susu formula? Apa bisa tidak usah dikasih apa-apa? Suster itu dengan segera berteriak ke temannya yang lain untuk memastikan bahwa Bening tidak diberi apa-apa.

Paling tidak, pikir saya sambil mulai tertidur, saya berhasil memastikan Bening hanya diberi ASI sejak hari pertama hidupnya.

Pertemuan saya dengan Bening akhirnya terjadi di ruang inap. Bening dibawa ke saya oleh salah satu suster dari ruang bayi. Dan di situlah ia, manusia kecil yang menghuni rahim saya selama sembilan bulan. Begitu ringkih dan lembut. Begitu mungil. Begitu cantik. Matanya sipit segaris dan kulitnya putih bersih, kontras dengan bibirnya yang merah.

Saya menatapnya, berpikir keras anak secantik ini datang dari mana. Apa dia mirip dengan saya atau suami. Apa yang sudah saya lakukan selama hidup sampai-sampai anak secantik ini bisa tumbuh dari rahim saya. Apa dia baik-baik saja.

Suster memutus pikiran-pikiran saya saat itu dengan mendadak meletakkan Bening di sebelah saya dan mengajari menyusui. Saya memutar tubuh–jahitan operasi saya menggelenyar, nyerinya masih tak tertahankan. Kaki kanan saya masih mati rasa. Tapi, Bening begitu pintar–dan juga lapar. Dia berhasil menyusu tanpa saya perlu berusaha banyak. Anak baik, saya bilang sambil mengelus rambutnya yang hitam tebal.

Saya tersenyum. Untuk kali pertama dalam hidup, segalanya tiba-tiba terasa sepadan.

2017_1013_191526002017_1013_201647002017_1013_20204600

Sedang bahagia,

Aulia

Advertisements
Standard
review

Image to Word: The Converter App Review

Few days ago, I started using an application named Image to Word, an app which basically does what its name says: converting image to word. The first time I tried this app, I was captivated. I mean, all my life I’ve been retyping all documents in image format to edit them. Now, I don’t have to. Superb!

At work, it helps a lot when I need to rewrite my work-related documents. Basically I just need to copy paste it and just add some words, adjust some sentences; but not all the documents comes in electronic copy. They come in papers. They make me retype and retype. Ugh. But this time-consuming task finally can be cut, thanks to this app!

You can see how this app comes in a clean and functional design, a simple kind of app, which makes it easy to use. I just need to tap the plus button in the app to go to camera for capturing the paper I want, crop the part I need to transform into a Word document, then voila, it is converted.

blog5

This is how the app looks like. Clean.

You can crop the document you capture, but even if you scan the whole page, like this, it will be just fine. It won’t affect the converting process anyhow.

blog6

This is what it looks like when the converting process is on. What is so wonderful about this app is it only takes 1 minute or less to convert the whole page I scan/capture. Isn’t it great?

blog2

I tried to open the document in my phone but it was so messy, perhaps because I didn’t have any Word app in my phone. Then I opened it in my PC, and it was great. It was neat. There were some sentences that were not aligned but it was only like 5% of the page. Good enough for me.

blog4

What the conversion looks like in phone

blog3

What the conversion looks like in PC. Nice!

This is the kind of app that I should have known since long time ago, when I was busy working on my papers at high school or college, or when I was writing my thesis. You know, that dreadful moment when the best journal (or book) you find in the internet or digital library is the one which is not available in pdf format, instead it is in an image format. Or, when the most important thing you need to put in your papers or work is in the most precious book in the library so that the librarian won’t ever let you bring the book home, not even photocopy it, let alone have the digital version of it, so all you can do is just typing word per word as fast as you can before the library is closed. Seriously, if only I had known about this app, I would not have spent too much time retyping my theories and previous researches when I was working on my thesis. I would have worked more efficiently.

For someone who loves to read and write, and work with documents involved, this app helps a lot. 3/5. And the score mostly because I love how fast it converts files.

Find it in PlayStore or AppStore, and tell me what you think about it! 🙂

blog1

Happy converting!

Aulia

P.S.: I use the paid version. If you use the free version, perhaps the converting time is not as fast as it should be. It only takes less than 25.000 rupiah for a lifetime so I suggest that everyone just take it.

Standard
review

Between: The ‘Couple App’ Review

Not so long ago, my boyfriend asked me to install an application for couple that he found few days before. The app is named Between. Sounds good, I thought. He then offered to install it to my phone–because installing a new app was too much work for my slow phone, thanks to my laziness to move the photos from my phone memory.

My boyfriend’s main reason to install this app for us was because we needed a shared calendar. Being a type A, I often get everything scheduled and have the urge to fulfill the schedule. Unfortunately, I usually forget to tell him the whole plan, and get annoyed if the schedule is not followed. I am the one who needs this, actually. Haha. Using Between, we both will get the notifications each time new task is added. Between the tasks at work and everything we needed to do in daily life, this is such a functional feature. This is like Evernote or Trello etc in more fun form. I love it. Now I don’t have to remind him over and over again about my movies plans and he doesn’t have to tell me repeatedly about his business trip schedules–so that I do not make other plans when he has to work–and our agenda can finally be organized. No hassle, no squabble.

screenshot_2016-09-28-12-39-51_kr-co-vcnc-android-couple

We put everything we both need to do, either together or just for one of us, no matter how insignificant the task is. (However, for a person like me, there is no such thing as insignificant task). But this app is more than just a shared calendar. This app is super private. It can only contain two users, which in my case are romantically involved, and this is basically like a small private social media for couples. There is a chat app inside, and it’s filled with cutesy lovey-dovey stickers (those are gifs, by the way).

screenshot_2016-09-28-13-06-49_kr-co-vcnc-android-couple

It also has a Memory Box where we can store photos, videos, notes, etc, and we can see it all in the home screen. Lovely, although I am not sure this will make my home screen feel like home if I put too many things in the memory box.

screenshot_2016-09-28-12-40-03_kr-co-vcnc-android-couple

To add more lovely nuance, Between also has a events (put-your-important-dates) feature and show it in our home screen. Oh, of course, we can change the home screen to our own photo. Like those cover photos in other social media apps.

img_20160928_125640_719

Wonderful, eh?

If you’re attached to your lover and your lives have tangled up to the point you can’t deny that you feel like you’re going to explode arranging schedules, use this app. It’s amazing to have your life finally get back on track again. Really.

But if you’re not that attached, or not really into the guy or girl you’re with (let’s assume we use this for romantically involved partner, though surely you can use this for work too), or this app brings too much commitment (darling, I can see where you are and what you’re supposed to do at what time), or you’re simply someone who doesn’t want your personal space to be invaded, perhaps this app is not for you.

3/5. And that 3 mostly comes from the shared calendar.

Have you ever tried this app?

 

Organized and happy,

Aulia

Standard
Life

Homeland

Saya menghabiskan tanggal 17 Agustus tahun ini di Bali. Waktu di Bali banyak habis di jalan–saya bahkan sampai ke Bali dengan menggunakan mobil dari Banyuwangi–jadi saya punya banyak waktu untuk bengong memperhatikan jalan dan orang-orang. Jalanan Bali penuh dengan dua hal: orang asing dan bendera merah-putih. Hal yang pertama sudah jadi hal lumrah. Hal kedua juga sebenarnya biasa karena masa-masa ini adalah masa perayaan peringatan kemerdekaan negara tercinta, tapi tetap saja saya takjub sendiri saat sadar bahwa bendera merah-putih nyaris ada di tiap rumah di Bali. Besar-besar pula. Bendera di perkantoran Jakarta saja tak melulu sampai sebesar yang saya lihat mencuat dari pagar rumah orang sini.

Lalu saya jadi terpikir soal nasionalisme, Indonesia, dan Ariana.

Ariana yang saya maksud adalah Ariana Alisjahbana. Saya bertemu dengan Ariana tahun lalu, saat sedang di Singapura. Juni tahun lalu, saat sedang mengikuti Singapore MUN, rekan saya di acara tersebut–Mbak Fitri Mayang Sari, pendiri Orang Jakarta–mengajak saya bertemu dengan Ariana. Sudah lama tak bertemu, katanya, dan kebetulan Ariana sedang di Singapura. Ariana sendiri sebenarnya sedang kuliah di Berkeley. Keberadaannya di Singapura pun untuk urusan sekolah, untuk magang di Google sana. Keren, ya. Saya yang anak ingusan ini belum apa-apa sudah terpukau.

Jadilah sore itu kami menyusuri Orchard Road sambil ngobrol-ngobrol. Nggak sih, saya cuma mendengarkan sambil foto-foto Mbak Fitri dan Ariana yang sedang ngobrol dan menimpali sedikit. Ariana bercerita banyak tentang dirinya sebagai diaspora di Amerika. Tentang bagaimana dia bekerja di World Resources Institute (WRI) dan berjuang supaya WRI membuat cabang di Indonesia. Berkali-kali mengajukan proposal (dan saya yakin, membangun reputasi agar suaranya didengar), dan akhirnya WRI Indonesia benar-benar dibuat. Adanya WRI di Indonesia jelas berarti sekali. Berapa banyak sih think tank yang sejenis WRI ini di Indonesia? Lebih-lebih yang memfokuskan diri pada pembangunan berkelanjutan dan hutan-hutan.

Lalu, mengapa sekarang ke Google? Ariana bilang, dia penasaran, bagaimana suatu perusahaan bisa sebesar ini dalam dunia teknologi. Saya ingat Ariana bicara juga soal bagaimana memahami teknologi yang berkembang akan berguna banyak bagi Indonesia, tapi saya lupa bagaimana detailnya. Yang saya ingat, penjabarannya membuat saya terpukau dan bertanya, “What drives you?

“Indonesia yang lebih baik.”

Di trotoar Orchard Road yang mulai remang, nyaris tertegun, saya mencatat jawaban Ariana dalam hati. Tidak ada jawaban yang bisa lebih nasionalis lagi selain ini.

Di tengah pembicaraan saat itu pula, Ariana sempat membahas stereotipe tentang bagaimana mereka yang menetap di luar negeri dicap tidak cinta tanah air hanya karena tidak tinggal di negara tercinta.

“Indonesia juga butuh dikuatkan dari luar,” ujar Ariana, yang saya aminkan dalam diam.

Saya pikir, tak perlu kita sibuk menilai orang yang bagaimana yang lebih cinta tanah air. Toh, semakin banyak orang Indonesia yang berkarya di kancah internasional, semakin baik. Dalam hal apapun. Entah Anda pejabat, pengusaha, insinyur, penulis, arsitek, seniman, jurnalis, desainer, apapun. Tak perlu repot, sekadar berkarya dengan baik dan mendedikasikan karya itu untuk Indonesia (sadar ataupun tidak) pun sudah cukup “berbuat” bagi Indonesia. Misal, para seniman seperti Trotoart yang karyanya di Jakarta Biennale membuat saya terperangah saat pertama kali dengar. Atau para desainer yang membawa batik ke level dunia dan membuat bisnis batik di Indonesia semakin seru. Atau contoh lain yang begitu gamblang bisa juga kita pelajari dari Ariana–yang bekerja di lembaga global dan berusaha sekuat tenaga agar Indonesia lebih dikenal di lembaganya yang mengurus tentang lingkungan–hingga akhirnya berhasil membuat kantor cabang di Indonesia. Hal yang tidak mungkin mau repot-repot dilakukan oleh orang yang tidak memiliki Indonesia dalam hatinya.

Meski, tentu menguatkan Indonesia dari dalam juga sangat diperlukan (saya sendiri bekerja di instansi pemerintah). Kadang juga, setelah menguatkan dari luar pun kita masih perlu benar-benar kembali. Ibu Sri Mulyani, contohnya. Ibu Sri Mulyani berkarier dengan baik sebagai COO di World Bank (dan berhasil membuat bangga sekian ratus juta orang Indonesia), saya yakin membuat nama Indonesia semakin diperhitungkan di luaran sana, dan kembali ke Indonesia begitu diperlukan (dan berhasil membuat ratusan juta manusia Indonesia bersorak). Teladan sekali. Atau mungkin, kalau Anda pengusaha besar nan bisnisnya mendunia, mengikuti program pemerintah yang sedang hits saat ini, Tax AmnestyAmnesti Pajak, bisa jadi sarana untuk “kembali”. Kita semua tahu tujuan utama program ini dibuat, untuk merepatriasi dana dari luar negeri, agar dana tersebut bisa digunakan di Indonesia untuk pembangunan ekonomi dan infrastuktur. Kurang cinta Indonesia apalagi, kalau kita bersedia menarik dana yang selama ini kita bisniskan di luar untuk kita investasikan sendiri di Indonesia, untuk membangun Indonesia. Enaknya, difasilitasi pula.

Tentu, dedikasi, niat, dan cinta, bukan hal yang bisa dinilai dalam sekali pandang ataupun dalam sekali aksi. Kembali atau tidak, berbuat atau tidak, yang terpenting adalah apa yang terpikir saat Anda harus menjawab pertanyaan ini.

“What drives you?”

 

Sedang serius,

Aulia

 

 

*ilustrasi yang indah di atas diambil dari sini

Standard
Life

Defining Self

Begitulah. Sekarang pukul satu dini hari dan saya didera keinginan untuk berputar menari waltz sendiri di teras rumah. Biasa, jam-jam segini memang rawan melakukan hal-hal di luar kebiasaan. Cuaca Jakarta sedang terlalu panas untuk saya, sulit sekali untuk tidur, jadi alih-alih berbaring saya malah membuka tumblr saya dan membaca beberapa postingan terakhir.

Di salah satu postingan, saya mengutip kata-kata ini setahun lalu.

Don’t wonder. Let me wonder. Let your friends wonder. You, define yourself.

Otak saya berhenti berputar sekejap saat terdengar samar pertanyaan dalam diri, “Lalu sekarang sudah jadi seperti apa?”. Jadi seperti apa? Entahlah. Ini sudah setahun dan kalau menengok ke belakang saya rasanya tidak melakukan banyak hal. Tentu saya masih sibuk, agenda saya selalu penuh dengan hal-hal menyenangkan, tapi agenda setahun terakhir berbeda dengan agenda setahun sebelumnya. Jika dua tahun lalu saya bisa menang PokemonGo saking seringnya pindah tempat, setahun terakhir ini saya seringkali hanya di rumah dan sekitarnya.

Am I actually defining myself?

Iya. Tentu iya. Mendefinisikan diri adalah hal yang sangat personal, tidak ada standar atau ukuran ataupun cara yang pasti untuk ini. Tentu akan sangat membantu jika bisa mengetik ini di wikihow dan menemukan jawaban yang tepat (sungguh, pertanyaan ini ada jawabannya di sana), tapi langkah dalam perjalanan mendefinisikan diri tetap saja hanya bisa ditentukan sendiri. Apapun yang saya lakukan–atau tidak lakukan–mendefinisikan saya. Saya bisa saja melakukan hal yang berbeda 180 derajat antara tahun ini dan tahun lalu, tapi saya rasa saya tetaplah saya. Saya tetap orang yang tidak mungkin tidak menangis di semua adegan mengharukan dalam film, tetap orang yang hobinya mengutip dialog atau lirik atau puisi, tetap orang yang berdebat dengan ibu kalau sudah soal korupsi.

Sambil menulis ini saya berpikir, lalu ada perkembangan baru apa? Ada yang berubah tidak?

Ya. Saya tetap saya, tapi yang berubah juga banyak. Jika saya patung, pemahat saya sedang sibuk cungkil sana-sini, menyesuaikan ini-itu. Saya bisa merasakan, kok. Sakitnya nyata. Terlepas dari berubah jadi lebih baik atau lebih buruk, memangnya mudah mengubah diri? Apa mudah, dari yang tadinya bisa sesukanya jadi disiplin? Apa mudah, dari yang biasanya ramah mudah tertawa jadi pendiam dan hanya senyum saja? Tidak ada adaptasi yang tidak menyakitkan. Kita berubah hari dari Minggu ke Senin saja banyak mengeluhnya, kok.

Tapi semua adalah bagian dari proses. Proses yang lambat, perlahan, dan mungkin tak ada ujung. Di ujung mata saya bisa melihat pemahat saya sibuk sekali mencungkil dan mengetuk-mengetuk. Terus-menerus, sedikit demi sedikit. Sakit? Iya. Lebih-lebih saya tidak tahu seperti apa bentuk saya sekarang, jadi lebih indah atau tidak. Jadi lebih baik atau tidak. Mengesalkan? Sangat. Seringkali saya ingin berhenti dan mengundurkan diri saja, pindah ke gelembung dan hidup nyaman di dalamnya.

Tapi, apa iya, baru setengah jadi lalu berhenti?

 

Sibuk bicara dengan langit-langit,

Aulia

Standard
Life

Eid Mubarak!

Happy Eid al-Fitr, everyone! It’s the fourth day of Lebaran (Eid al-Fitr), and I am happy that I can spend my fourth day of it with my big family! It is rare. Usually it is just two or three days-off for us employees, but for this year, the government sets the holiday for a week straight. Overjoyed, I am.

Every Lebaran, there are some classic matters that you will find in Lebaran in Indonesia. Some of them will make you feel very very very homesick if you happen to be not in the country when Lebaran begins.

  1. The gatherings
lebaran2

My boyfriend’s family. Taken from his camera.

Friends. High school friends. Junior high school friends. Elementary school friends. Any of your childhood friends. Family. Nuclear family. Big family. Big big big family. You name it. This is the time of the year when you actually can gather with families or the friends that have lived in different areas, everybody goes back to their hometown. Everytime I open my Path, I see grinning faces in kaftans and kokos with joyful captions. The hashtag #lebaran in Instagram itself contains these kinds of photos, mostly selfies, instead of photos of the feast or the celebration.

2. The feast

opor-ayam

Opor ayam

You may eat rendang everyday in your life but you surely can’t refuse to eat rendang (again) or opor ayam when Lebaran comes. Those two are the mandatory when it comes to Lebaran feast. In some area I find that they have another unique food for their feast. In Banyuwangi, my boyfriend says, they usually cook tape ketan. I never see it in my Lebaran time. And in my place, usually my grandmother cooks sambel ati-pete and sayur tempe santan to accompany opor and rendang. Also, to entertain the guests who flood during Lebaran time, my family usually serve pempek and tekwan, brought directly from Bandar Lampung.

If you think the feast is “homesick material” enough, wait until people start to stroll around their hometown and post the food they eat to social media. Wait until those friends you have post pictures of sroto and mendoan as their hometown is in Purwokerto, or post Bebek Sinjay as they stroll around Surabaya. Each time I see those pictures, I weep. Take me there!

3. The kaftans

lebaran8

Taken from Instagram @vendart

Different from ‘the gathering’, this section covers how people looooove to wear (new) kaftans and take #ootd photos and post them on social media. This is my yearly routine, to observe how kaftans are still happening since…6 years ago? I mean, okay, you wear dresses or long pants or vests on your daily basis, but when Lebaran comes suddenly it’s kaftan time. It is okay. It is beautiful. And actually, my all-time favorite is to watch the kaftans in family uniform. Yes, some families have uniforms for Lebaran. And I love love love to play a guessing game with myself, which color will they wear this year?

4. The question

lebaran9

Taken from Google

In Lebaran family gatherings, Indonesians have a cruel opening line that every 20’s hates but keeps coming: Kapan nikah? When will you get married?

This is true. Sometimes they don’t even ask the “how are you?” question and just go straight to “kapan nikah?“. For example, an aunt comes and she says hi and you do ‘salim‘ her and then she will say, “Oh, sudah besar, ya. Sudah selesai kuliah, ya? Kapan nikahnya? Oh, look at you, you’re all grown up. You’ve graduated college, right? When will you get married?”.

A question that can only be beaten by “Hehe, iya, Tante. Hehe, yes, Aunty,” and a grin.

I honestly don’t hate this question. In my opinion, they actually only want to start a conversation. The question is just a result of their social awkwardness. Give them a credit to start a conversation, guys. I myself try sometimes to start a conversation with my aunts, uncles, grandmas, and grandpas, and most of the time I struggle. I don’t know what usually happens in their ages, and it feels just so awkward to actually ask about their lives.

For example, I have a cool uncle, and I ask about his job, and since he’s a director in a ministry (just found it out few years ago when I asked him this!) he’s hesitant to directly tells me about his job. Perhaps he’s shy, perhaps he doesn’t want me to think he’s so proud that he will blabber about it. I am used to straight-forwarded people, asking about jobs (skin-deep question) is a normal thing to do. I feel awkward. I just want to start a question and know more about him, but well, it is not as easy as mingling in a friend’s birthday party. No, not at all.

So, chillax. That kind of questions will keep coming in Lebaran. If you find yourself get too furious about it, watch this Alain de Botton’s video about how to remain calm.

Well, most of all, to me what actually identifies Lebaran in Indonesia is the takbiran. The repetitive takbir in mosques, until the prayer starts in the next morning, is a celebration ritual that perhaps I will miss most if I ever celebrate Eid al-Fitr abroad.

 

Eid Mubarak,

Aulia

Standard
Life

The Marriage

When I published my posts about the preparation of my wedding, questions came at the drop of a hat.

“WHY? HOW? ARE YOU SERIOUS, THIS IS NO JOKE?”

I was nervous at the first time I got the questions. It made me think twice, confused about how to explain about my decision, and my crazy side that needs external validation started to panic. I know that marriage is a serious matter, that it needs to be well thought out, and I know why people feel like having the urge to ask those questions (I’m relatively younger than everyone else in my circle), but knowing these doesn’t help me overcome my anxiety.

I trailed back and compiled some answers for the question.

“Why do I get married?”

Why don’t I? That’s my first answer to a friend who asked me this. This is the kind of question that I need to understand comprehensively before answering, it depends on what kind of person who asks me this. A religious one? (Easy, just answer that it is to complete half of the religion). A romantic? (I fall in love. Deep, deep, deep, deeply in love. And this is my actual answer!). A philosopher? (Man, this one is hard). A feminist? (I need to carefully pick my words so that it does not make him/her think I surrender to a form of women’s oppression).

So why do I get married?

Because I want to. I’ve always wanted to. I know that this seems weird because I look like an independent woman (*cough*) and marriage seems like a thing that society uses to cut freedom (for both sides), even a symbolic institution signifying the subordination of women to men. Moreover, if we mention about the correlation between marriage and commitment, about how marriage does not necessarily increase the commitment between two lovers, why bother taking a hellish surf in the marriage tide while you can just relax on the girlfriend-boyfriend beach? (Let’s put the religion aside on this argument). Logically there is no good reason to say yes to marriage, so why do I keep doing that? To avoid the Satpol PP sweeping?

It may be half true. The reason about why I think marriage is necessary is because I feel like I put the same amount of effort in the means of committing myself in a girlfriend-boyfriend relationship as in marriage. For example, I don’t mind switching priorities. I put my lover first, always first, if I want to, or if he asks, or if he deserves it. My current lover, the one I am about to marry, meets the three categories. So I put him first. You know what happens when I put my relationship and my lover as my priority? I ditch almost everything else other than him. My friends, my organizations, my colleagues, my leisure time, everything. I become dependent. I cut my own freedom. It is not that extreme, but it can be perceived easily by people who interact with me. It seems like I withdraw myself from the crowd.

The problem with (my) society is sacrificing that much for a lover is considered too much if that is not a marriage relationship. They will say that it’s a careless move, done by a silly lover drunk in love who can’t think clearly about the disadvantage that may come. What if we break up? What if we don’t get married while I already put that much effort, letting go almost everything that defines me, only for a pseudo-relationship? It is different with marriage. If it’s for a marriage, what I do is normal, it is even encouraged. You indeed have to put your lover (and family) first.

To be fair, the judgements probably only happen in my head. But the problem with me is that I care too much about what my society may say about me. My constant need of external validation is just too strong to ignore. I, who love to put that much effort in a relationship, want an external validation. I want people to think that it is normal for me to refuse to go out because I want to be with my boyfriend, sitting in silence doing nothing, rather than spending the night sipping coffee with my friends and talking endlessly about how funny life is. But, no. People react differently to the word “boyfriend” and “husband”.

And after all the effort I do willingly, I want the husband effect. Society may change, but for the time being I am the one who needs to adapt. If I want the husband effect, I need to get married. With this person, I would love to.

Speaking of which, another question that also comes often is: “Are you sure?”

You mean, getting married? With this person? 100 percent sure. This person is always kind to me. I can tell him everything, he can tell me everything, and I never have any desire to hide anything for him. Any. Being with the one who knows your flaws, even the biggest ones, really helps. I started to accept my own self because of him. And perhaps because of that, I am willing to adapt to him. Me, the idealist, the perfectionist. I even feel amazed. Also, this person is the first person who never makes me doubt my efforts, I know he is willing to do the same for me.

I may be wrong. Things may change, I may change, he may change. I know there can be inherent risks that make our marriage be very hard to handle.

It is okay. He is worth the trouble.

 

Super smitten,

Aulia

 

 

*Satpol PP (Civil Service Police Unit) is a unit in Department of Home Affairs that assists the local regional head of the government affairs to enforce regulations of the region. In this case, Satpol PP duty is to look for the couples who live together without being married (normally this is not allowed in Indonesia). The question “to avoid Satpol PP sweeping” is actually asked by a friend. Hahaha.

Standard