Life

Bertemu Bening

Perjalanan saya untuk bertemu dengan Bening terbagi dalam beberapa babak: pertemuan dengan ayahnya, pernikahan, kehamilan, dan proses melahirkan. Dalam tulisan ini, saya akan mengisahkan yang terakhir, tentang bagaimana saya, pada akhirnya, bertemu dengan manusia baru yang mengubah hidup saya diam-diam.

***

Saya sudah lama mengamati Bening sembunyi-sembunyi tanpa sepengetahuannya. Sejak saya tahu ia ada, setiap bulan saya mengintip Bening, memastikan dia baik-baik saja di dalam perut saya yang terus membesar. Kadang juga saya mengintipnya kelewat sering, bisa dua-tiga kali dalam sebulan di dua-tiga dokter yang berbeda. Saking cemasnya. Belum pernah rasanya saya sampai seperti ini dalam menghadapi sesuatu. Banyak tanya, sedikit tenangnya, kira-kira. Banyak pertanyaan yang rasanya ingin dijawab detik itu juga saat tanya tersebut muncul di kepala. Banyak jawaban yang rasanya ingin saya pertanyakan lebih lanjut sampai saya benar-benar yakin jawaban itu benar, benar-benar yakin bahwa semua baik-baik saja. Tapi, dalam kehamilan, tidak ada yang bisa memastikan semuanya baik-baik saja. Tidak dokter, tidak bidan, tidak pula si induk. Dalam menghadapi kehamilan, saya mendadak menjadi relijius, hanya mampu menggantungkan harapan dan keyakinan pada semesta setelah mengusahakan yang terbaik. Pasrah dan doa saya kirim banyak-banyak. Hitung-hitungan logis sudah tidak bisa saya percaya lagi. Siapa yang tahu kalau-kalau di salah satu belokan saya salah jalan dan akibatnya fatal?

Selama sembilan bulan, saya mengusahakan beberapa hal kecil untuk Bening. Memaksa diri memakan ikan, yang sebenarnya hanya pernah saya makan beberapa kali dalam hidup, karena begitu ingin dapat nutrisinya. Membaca banyak soal kehamilan dan persalinan, meng-google setiap pertanyaan sesederhana “how do I know my baby is okay?” (jawaban: you will never know), juga selalu mengajak Bening bicara meski jawabannya hanya berupa tendangan-tendangan kecil di perut. Dan yang terpenting, mengikuti prenatal yoga dan rajin menggunakan gym ball untuk olahraga demi melancarkan persalinan. Saya begitu ingin melahirkan normal dengan tenang. Gentle birth, kalau kata orang-orang. Di trimester akhir, setiap bertemu dokter, saya selalu bertanya apa mungkin bagi saya untuk melahirkan normal. Jawabannya selalu mungkin, mengingat Bening begitu sehat dan baik-baik saja, sampai di hari dimana saya bertemu dokter untuk mengintip Bening untuk terakhir kalinya.

Hari itu saya melihat ada flek untuk pertama kalinya selama hamil. Saya pikir, ah, Bening mungkin sudah mau datang, mungkin besok. Saya tenang, setengah bersemangat, karena sebentar lagi akan bertemu dengan manusia kecil yang selama ini cuma bisa saya intip-intip lewat pantulan gelombang. Kebetulan malamnya saya memang terjadwal untuk kontrol ke dokter kandungan, jadi saya pikir, tinggal bilang kalau saya sudah melihat flek, lalu tunggu dan tunggu dan tunggu dan saya akan bertemu Bening dalam waktu yang tidak lama lagi. Tapi dugaan saya meleset sebagian. Dokter saya memandang saya dengan tenang saat selesai memindai Bening, dan dengan lamat berkata, “Wah, bayinya besar sekali. Harus caesar ini. Malam ini saja, gimana?”

Setengah otak saya mengingat bahwa hari itu 12 Oktober, tepat ulang tahun Mama saya, dan dia pasti akan sangat senang kalau ulang tahun cucu pertamanya berbarengan dengannya. Setengah otak saya yang lain membeku. Caesar? Operasi? YOU MEAN, I HAVE TO GO TO HOSPITAL, HAVE SOMEONE CUT MY FLESH AND STUFF?

Saya lebih takut menghadapi operasi caesar daripada harus melahirkan normal karena belum pernah dirawat di rumah sakit sebelumnya. Saya mencoba mengubah pikiran dokter saya. Saya bilang, saya flek. Oke, ayo kita cek pembukaan berapa. Pembukaan dua, dan bayinya belum benar-benar turun di panggul.

“Ibu, ini berisiko jika harus lahiran normal, nanti bayinya tersangkut,” jelas bidan yang mengecek pembukaan saya. (Ngomong-ngomong, cek pembukaan itu pengalaman yang sungguh tidak terduga).

Saya makin ragu dan setengah ingin menangis. Saya bilang, saya mau pikir-pikir dulu. Dokter saya bilang, kalau caesar bisa dengan dokter mana saja, tidak harus dengannya. Tapi dia tetap menyarankan caesar, karena bayi dalam perut saya sudah tak sabar ingin keluar sementara jalan lahirnya dikhawatirkan tidak cukup untuk ia lewati. Saya mulai lemas. Saya bilang, kalau memang harus caesar, saya pilih dengan dokter saja. Saya tidak bisa membayangkan harus dioperasi oleh dokter lain yang tidak tahu riwayat saya di akhir hingga akhirnya harus dioperasi. Dokter langsung memberi jadwal untuk operasi dengannya dan rumah sakit mana yang harus saya datangi. Dia bahkan menjelaskan prosedur untuk bisa menjalani operasi gratis menggunakan BPJS di rumah sakitnya. Tersenyum setengah hati, saya mengucapkan terima kasih dan keluar ruangan.

Sepanjang malam saya sibuk mengirim pesan ke teman dekat saya yang juga seorang dokter dan baru-baru ini melahirkan normal. Dia penganut gentle birth garis keras, dan berhasil melahirkan bahkan tanpa jahitan di perineum-nya. Saya butuh opini lain. Saya butuh diyakinkan. Saya butuh dengar bahwa saya punya pilihan lain. Saya pun menghubungi bidan di klinik lain, yang biasa jadi instruktur prenatal yoga saya. Dengan baik, dia menjelaskan untuk meminta opini kedua pada dokter lain yang mendukung persalinan normal, dan bahkan mau mengantarkan saya. Dia meyakinkan saya kalau saya bisa, saya berdaya untuk melahirkan secara normal meski Bening divonis terlalu besar untuk saya.

Tapi semua kalah dengan saran dari suami saya yang takut terjadi sesuatu pada Bening. Esoknya, saya ke bidan lagi, mengecek pembukaan (yang saya yakin sudah lebih terbuka dan lebih turun karena sakitnya mulai terasa), tapi masih juga harus memberanikan diri ke rumah sakit untuk melahirkan caesar. Saya sampai di rumah sakit siang setelah shalat Jumat. Setelah menunggu di IGD dan ruang OK berjam-jam sambil menahan sakit kontraksi yang makin menjadi, setelah berlembar-lembar kertas administrasi selesai diurus suami, setelah dua labu darah berhasil dibawa dari PMI, saya pun diminta masuk ke ruang operasi.

“Sudah pamit sama suaminya, Bu?”

Pamit apa, saya tanya. Tidak boleh ditemani di dalam ruangan operasi, jawab suster.

Hati saya kacau-balau. Rasanya seperti ingin mundur. Tapi toh kaki saya melangkah juga ke ruang operasi. Sudah ada dua dokter dan beberapa suster di sana. Saya membuka baju–halo, pengalaman telanjang di depan banyak orang–dan berbaring di kasur operasi. Mereka sigap sekali. Sekejap saya sudah diinfus–halo, pengalaman diinfus–lalu sudah disuntik bius–halo, pengalaman dibius–lalu sudah ditutupi screen hijau di dada untuk menghalangi pandang ke proses operasi.

Malam itu, saya lupa berdoa agar operasi lancar. Saya terlanjur panik merasakan kaki yang tiba-tiba mati rasa dan langit-langit rumah sakit yang mendadak berputar. Dengan napas terengah, saya protes kepada dokter yang berdiri di dekat kepala saya, dokter anestesi, kenapa kaki saya tidak bisa digerakkan. Ya, namanya dibius, jawabnya santai. Saya masih panik dan mulai menangis. Salah satu suster mencoba menenangkan saya, tarik napas panjang, katanya. Saya mengingat-ingat latihan pernapasan di prenatal yoga yang saya ikuti. Percuma. Sulit mengatur napas sambil menangis.

Meski masih diserang panik, saya bisa merasakan dokter kandungan saya sudah datang. Benar saja, dokter melongok ke saya melewati screen, bicara sesuatu yang saya lupa entah apa, dan saya jawab dengan teriakan sebisanya di sela napas yang satu-satu, “DOK, CEPETAN, DOK!”

Gentle birth apanya.

Beberapa menit kemudian, di sela napas yang setengah mati saya atur, di sela muntahan ludah yang terus keluar entah karena vertigo di langit-langit atau karena anestesi, saya bisa merasakan perut saya yang berat mendadak kosong. Sedetik kemudian, suara tangis Bening memenuhi ruangan (dan sepanjang koridor, saya yakin). Suara Bening begitu nyaring. Tangis saya pecah lagi, kali ini karena lega dan haru campur jadi satu.

Saya masih harus berbaring karena perut saya masih harus dijahit–dan lagi saya dibius, tidak bisa kemana-mana. Samar saya ingat Bening dibawa masuk ke saya dan dia didekatkan untuk menyusu. Kebetulan, saat menunggu di ruang OK, saya berpesan ke salah satu suster bahwa saya ingin Inisiasi Menyusui Dini. Sayangnya, saya terlalu pusing untuk bisa menyusui Bening saat itu. Saya bahkan tidak ingat apa Bening berhasil menyusu atau tidak.

Setelah operasi, saya dibawa ke ruang OK untuk istirahat. Kepala saya masih berat, kaki kanan saya masih tidak bisa digerakkan. Keluarga saya menghampiri. Selamat, anaknya cantik, kata mereka. Ah, sungguhkah, kalau benar begitu, bersyukur sekali, jawab saya dalam hati. Saya hanya menatap mereka, tersenyum kecil. Entah berapa waktu kemudian, ada suster yang mendekat untuk mengecek infus yang terpasang. Saya bertanya, apa bayi saya dikasih susu formula? Apa bisa tidak usah dikasih apa-apa? Suster itu dengan segera berteriak ke temannya yang lain untuk memastikan bahwa Bening tidak diberi apa-apa.

Paling tidak, pikir saya sambil mulai tertidur, saya berhasil memastikan Bening hanya diberi ASI sejak hari pertama hidupnya.

Pertemuan saya dengan Bening akhirnya terjadi di ruang inap. Bening dibawa ke saya oleh salah satu suster dari ruang bayi. Dan di situlah ia, manusia kecil yang menghuni rahim saya selama sembilan bulan. Begitu ringkih dan lembut. Begitu mungil. Begitu cantik. Matanya sipit segaris dan kulitnya putih bersih, kontras dengan bibirnya yang merah.

Saya menatapnya, berpikir keras anak secantik ini datang dari mana. Apa dia mirip dengan saya atau suami. Apa yang sudah saya lakukan selama hidup sampai-sampai anak secantik ini bisa tumbuh dari rahim saya. Apa dia baik-baik saja.

Suster memutus pikiran-pikiran saya saat itu dengan mendadak meletakkan Bening di sebelah saya dan mengajari menyusui. Saya memutar tubuh–jahitan operasi saya menggelenyar, nyerinya masih tak tertahankan. Kaki kanan saya masih mati rasa. Tapi, Bening begitu pintar–dan juga lapar. Dia berhasil menyusu tanpa saya perlu berusaha banyak. Anak baik, saya bilang sambil mengelus rambutnya yang hitam tebal.

Saya tersenyum. Untuk kali pertama dalam hidup, segalanya tiba-tiba terasa sepadan.

2017_1013_191526002017_1013_201647002017_1013_20204600

Sedang bahagia,

Aulia

Advertisements
Standard

5 thoughts on “Bertemu Bening

  1. esther says:

    Hebat Aul, Pengalamanmu hampir mirip sama pengalaman saya.. seperti membaca yang selama ini tak terkatakan… Happy Breastfeeding, Happy Parenting… 👼🏻💪🏼😇

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s